Selasa, 24 Desember 2013

Wisata Saya Bersama Teman-Teman PBSI dan Dosen




WISATA PASAR TERAPUNG LOK BAINTAN DAN PULAU KEMBANG

     Pada Sabtu, 07 Desember 2013, saya dan teman-teman prodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (PBSI) beserta dosen kami yaitu Bapak Sabhan melakukan perjalanan (wisata) ke Pasar Terapung Lok Baintan dan Pulau Kembang. Kami berkumpul di masjid Sultan Suriansyah, di Kuin sebelum pukul 05.45. Pada pukul 06.15, kami menaiki perahu yang telah tersedia. Perahu yang tersedia ada 4 buah, saya menaiki perahu kloter ke 2.
     Ketika kami menuju Pasar Terapung Lok Baintan, di perjalanan saya melihat berbagai aktivitas warga di pagi hari dan kondisi alam sekitarnya. Warga di sekitar bantaran sungai masih menggunakan sungai untuk keperluan sehari-harinya, seperti: mandi, mencuci, buang hajat, dan lain-lain. Mereka mandi di alam terbuka dan menggunakan WC di luar atau bisa juga disebut dengan jamban. Lebih jauh lagi, saya dapat menyaksikan berbagai aktivitas penggalian sumber daya alam (SDA) yang menjadi mata pencaharian sebagian warga sekitar. Aktivitas mereka itu seperti: pengambilan pasir menggunakan mesin pengeruk pasir, pengambilan batu kerikil di dasar sungai, dan adanya tempat penyerutan dan penimbunan berbagai macam kayu (kayu galam, kayu ulin, dan lain-lain).
     Sekitar dua jam kemudian, sampailah kami di Pasar Terapung Lok Baintan. Disini kami menemui pedagang-pedagang yang menjual berbagai macam dagangannya dengan menggunakan perahu, seperti: makanan (kacang tanah, pisang, jeruk, nasi uduk/ nasi kuning, lalapan, kue khas banjar, dan sebagainya), rempah-rempah (jahe, kencur, daun salam,dan sebagainya), sayur-mayur (daun singkong, bayam, kangkung, dan sebagainya), Ikan segar dan ikan asin.Kami membeli dan mencoba berbagai macam makanan yang sudah jadi seperti: kacang tanah, jeruk, kue khas banjar, dan nasi uduk. Tidak ketinggalan kami juga mengabadikan pemandangan sekitar dengan berfoto bersama.
     Setelah kami puas berbelanja dan menikmati pemandangan, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kembang. Sekitar 20 menit kami sampai di Pulau Kembang. Sesampainya di Pulau Kembang, kami disambut oleh beberapa monyet, monyet-monyet itu sangat antusias dengan kedatangan kami. Kami menuju loket dan membeli karcis seharga Rp 5.000,-. Kami memasuki gerbang menuju tempat semacam kuburan. Disana terdapat dua buah patung monyet di kiri dan kanan kuburan tersebut. Kemudian kami mengelilingi hutan belantara, tempat tinggal monyet-monyet itu. Hutan ini sengaja dibuat jalan setapak atau bisa juga disebut jembatan yang mengelilingi hutan. Di pinggiran jalan, terdapat beberapa monyet dari yang kecil hingga yang besar. Ada juga monyet yang sedang menggendong anaknya. Monyet-monyet disini sebagian ada yang liar. Monyet-monyet itu suka suka mengambil barang-barang yang dibawa oleh pengunjung. Walaupun kami sudah membawa alat pengusirnya berupa kayu tetapi masih saja ada monyet yang nakal. Monyet itu mengambil sepatu salah satu teman saya.
     Kami kembali ke dermaga sungai Kuin pukul 11.00 dengan berbagai pengalaman yang berbeda. Ada yang menikmati wisata ini dan ada juga yang jera.Tetapi saya yakin semua merasa senang karena bisa berwisata bersama.